Cerita PNS Tentang Ahok, Kehilangan, On time, Kerjaan Dibawa Pulang, Balai Kota Menjadi Sepi
Liputan Harian Berita - Saya yakin masyarakat Jakarta mayoritas merasa sedih Ahok kalah dan sekarang masuk penjara. Hanya orang-orang munafik dan membohongi hati nurani yang merasa senang Ahok kalah dan dipenjara. Masyarakat Jakarta merasakan sentuhan nyata Ahok. Para pegawai negari diajarkan kerja yang nyata, tepat waktu, dan efektif. Di satu sisi, para PNS tidak bisa santai lagi. Namun saya yakin, di sisi yang lain, mereka senang dipimpin oleh seorang yang sangat profesional seperti Ahok.
Beberapa PNS menceritakan kembali tentang Ahok serta tentang perasaannya kehilangan Ahok. Berikut informasinya.
Ahok boleh saja mendekam di penjara. Dalam
waktu dekat, dirinya juga akan segera digantikan oleh Djarot Saiful
Hidayat. Namun jejak kerja dan kiprahnya selama hampir tiga tahun
memimpin ibu kota, masih membekas di benak sejumlah anak buahnya.
Hal itu diakui salah satunya oleh Sumarni dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Sumarni mengaku merasa kehilangan sosok
Ahok yang biasa ia temani hampir setiap pagi untuk membantu sang
gubernur menerima aduan warga soal Kartu Jakarta Sehat (KJS).
“Gimana ya, pasti merasa kehilangan. Kan kami selalu mendampingi. Terkadang di sampingnya, di belakangnya,” kata
Menurut Sumarni, selain tegas dan disiplin, Ahok adalah sosok yang pintar dan sangat tepat waktu. “Kalau sama Pak Ahok semuanya on time,” ucapnya.
Sementara itu, menurut Sumarna dari Biro
Umum DKI Jakarta, Ahok adalah sosok yang luar biasa baik dari
pengetahuan maupun kemampuannya bekerja.
Ahok, kata Sumarna, sering pulang malam dan makan sambil bekerja hanya untuk menyelesaikan berkas-berkas pekerjaannnya.
“Enggak ada waktu santai-santai. Padahal,
jadwalnya padat. Saya salut. Kalau malam berkas belum selesai dibawa
pulang, besok dibawa lagi,” tutur Sumarna.
Sumarna yang menjadi bagian dari satuan
pengamanan kantor gubernur DKI Jakarta juga merasa kehilangan Ahok.
Menurut dia, sekarang Balai Kota DKI Jakarta sudah tidak seramai dulu
saat masih ada Ahok.
“Bedanya terasa lebih sepi sekarang, tapi
saya kurang tahu pasti apa alasannya. Apa karena sudah tidak ada Pak
Ahok atau karena ada faktor yang lain,” ucapnya.
Sistem layanan pengaduan masyarakat yang
dulu menumpuk jadi satu di pendopo Balai Kota DKI Jakarta, sekarang
sudah disediakan meja-meja khusus sesuai dengan bidang aduannya
masing-masing.
Masyarakat yang ingin mengadukan
masalahnya tidak perlu lagi menunggu hingga pelaksana gubernur datang.
Mereka bisa langsung mengadukan masalahnya kepada satuan kerja perangkat
daerah (SKPD) terkait.
Saya yakin cerita dari beberapa PNS ini mewakili gambaran perasaan mereka kehilangan sosok Ahok. Saya yang bukan warga Jakarta saja sangat mengagumi Ahok, apalagi warga Jakarta yang merasakan sentuhan tangan dingin Ahok.
Saya yakin cerita dari beberapa PNS ini mewakili gambaran perasaan mereka kehilangan sosok Ahok. Saya yang bukan warga Jakarta saja sangat mengagumi Ahok, apalagi warga Jakarta yang merasakan sentuhan tangan dingin Ahok.
Belum lama Balai Kota kehilangan Ahok.
Namun, perubahan-perubahan nampak sangat nyata. Sepinya Balai Kota
seolah-olah mewakili perasaan masyarakat Jakarta. Jika Balai Kota
seperti manusia, saya koh yakin Balai Kota akan merasa sedih kehilangan
Ahok.
Djarot memang telah sangat baik
menggantikan Ahok. Namun bukan persoalan kerja saja yang membuat
masyarakat begitu rindu akan sosok Ahok. Djarot bisa saja melakukan
kerja sama baiknya dengan Ahok, namun Djarot tetap tidak bisa menjadi
Ahok di hati masyarakat Jakarta.
Masyarakat Jakarta rindu dengan suara
serak Ahok, gaya ceplas-ceplosnya, serta kemarahannya ketika mellihat
pegawainya ada yang berusaha curang atau bekerja seenaknya sendiri.
Masyarakat merindukan sosok yang begitu sabar dan tabah melayani setiap
keluhan masyarakat yang sejak pagi sudah mengantri di depan Balai Kota.
Berbondong-bondongnya masyarakat Jakarta
bukan semata-mata ingin mengadukan keluh kesahnya ke Ahok. Namun, dengan
bertemu dengan Ahok, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buat
warga terlepas dari keluhannya ditanggapi oleh Ahok atau tidak. Namun
saya yakin, Ahok menanggapi semua keluhan warga Jakarta.
Maka sangat wajar ketika tiba-tiba seperti
ada kekuatan yang dahsyat yang menggerakan hati masyarakat untuk
mengirim ribuan karangan bunga untuk Ahok. Peristiwa banyaknya kiriman
bunga hampir mustahil sebuah setingan. Pengusaha bunga di Jakarta telah
menjelaskan secara gamblang bahwa karangan bunga untuk Ahok bukan sebuah
setingan. Ahok menjadi sosok yang mampu menggerakkan hati orang-orang
untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk membeli karangan
bunga untuk dirinya. Ahok juga mampu menjadi sumber rezeki untuk orang
lain. saya yakin, pengusaha bunga di Jakarta mengalami hal ini.
Entah kata apalagi yang pantas untuk
menggambarkan kehebatan Ahok. Untuk satu dekade mendatang, saya ragu di
Indonesia akan ada lagi sosok yang seperti Ahok.

Komentar
Posting Komentar