Ketika Ada Polisi Mengajak Menertawakan FPI
Liputan Harian Berita - Kepolisian Republik Indonesia yang punya Pak Gamayel memang pantas bersyukur. Berkat finalis Stand Up Comedy Indonesia (SUCI 6) ini wajah polisi Indonesia kian punya aura beda. Tidak hanya dikenal sebagai tukang tilang. Polisi kini punya potensi mengembangkan selera humor di mana pun mereka bertugas. Jadilah polisi-polisi yang makin manusiawi.
Apresiasi tinggi layak disampaikan kepada
Jenderal Tito Karnavian yang makin memperkenalkan wajah humanis
Kepolisian Republik Indonesia. Pak Gamayel telah dikenal publik berkat
kepiawaiannya manggung berbekal satu microfon.
Tidak perlu dua seperti Habib Rizieq. Satu
microfon saja sudah cukup membuat penonton sulit berhenti ketawa.
Apalagi kalau dua? Alamat akan ada demo bela ketawa berjilid-jilid kayak
demo ala FPI yang bela ini dan itu.
Selain di panggung komedi, para polisi
juga mampu menyuguhkan hiburan menarik pada bulan Ramadhan 1348 H ini.
#ArtiRamadhan yang sangat bermakna bagi polisi dan masyarakat.
Adalah Bapak Kapolres Rembang AKBP
Sugiarto, SH,SIK, Msi ketika dengan sangat ramah meminta anggota FPI
berganti baju muslim yang baru. Maklum situasi Rembang memang beda
dengan Masjid Istiqlal. Ketika Kapolres mendengar kabar rencana
kedatangan personil FPI ke Rembang untuk mengikuti pengajian Haul Kyai
Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, dilakukanlah antisipasi
dini.
Disampaikanlah himbauan agar FPI tidak
menggunakan atribut ketika mengikuti kegiatan di Rembang. Daripada
datang dengan seragam FPI malah kena gebuk orang-orang Rembang yang anti
FPI, lebih baik baju FPI diamankan dulu.
Dari sinilah humor level Dewa Budjana
benar-benar ditunjukkan Bapak Kapolres di panggung dunia maya. Alkisah
ditemukanlah sesosok anggota FPI yang bertato. Bukan sembarang tato
tentu saja.
Jangan dibayangkan mentang-mentang Front
Pembela Islam, tatonya lafaz Allah sesuai syariah. Insya Allah, bukan
itu. Karena tatonya betul-betul astafirullah. Setelah dicermati tatonya,
dapat diduga dengan azas praduga tak bersalah kalau yang punya tato
belum siap mendapat barokah qusnul qotimah.
Mengingat, ini tato benar-benar level
masya Allah. Percaya nggak percayalah pokoknya. Ada anak buah Habib
Rizieq Shihab, imam besar Islam tingkat nasional, tatonya wanita
telanjang. Kebayang ndak? Bener-bener bikin ah dan bikin uh bukan?
Itulah yang ditunjukkan Bapak Kapolres.
Benar-benar sebuah humor cerdas di atas pangggung komedi tingkat dunia,
bukan? Humor yang sangat humanis dan berbuah manis.
Begitulah kelakuan ormas yang mengaku
membela Islam. Teriakan dari mulutnya tetap takbir, eh lengannya tato
wanita telanjang. Dikatain munafik marah. Dikatain pengung, tersinggung.
Memang bikin bingung kelakuan ormas ini. Tidak hanya habibnya, anak
buahnya ternyata juga pemuja pornografi.
Sampai kapan ormas kayak gini dipelihara
negara, ya? Kalau saya lebih setuju negara memelihara anak-anak yatim
dan yang terlantar daripada memelihara ormas yang menghalalkan
pornografi di lengan dan di kandang kambing dekat pohon pisang.
Lihat saja penampilannya. Bajunya sangat
gamis dan klimis, eh dalamnya tatoan kayak gitu. Agama dan ulama yang
dibela ormas kayak gini apa tidak malu dunia-akhirat, coba? Bagaimanapun
almarhum Gus Dur lebih bijak dalam bersikap.
Agama hingga Gusti Allah itu tidak perlu
dibela. Gusti Allah sudah sejak dahulu kala maha kuasa sebelum FPI lahir
di Indonesia. Agama Islam adalah rahmatin lil ‘alamin sudah jelas.
Tidak perlu dibela dengan cara mengumbar pornografi ala tatoan dan
pornoaksi kandang kambing ala Habib Rizieq.
Tapi, kalau pada dasarnya sudah FPI,
memang selalu saja ada cara untuk membela citra diri. Melalui akun
facebook bernama ‘Front Pembela Islam – FPI’ dalam postingan yang
diunggah pada Jum’at (9/6) sekitar pukul 13.00 WIB menyebutkan bahwa
pihak kepolisian resor Rembang melakukan tindakan pelucutan atribut yang
dikenakan FPI. Selain itu dituliskan juga bahwa dalam kegiatan tersebut
pihak kepolisian bertindak secara arogan.
Ini logika FPI memang terbalik. Soal
arogan kan sudah jadi trade mark FPI. Kalau sampai pihak kepolisian
arogan pasti harus bayar royalti kepada FPI. Kok ini malah nuduh
kepolisian bertindak arogan.
Terkait kabar pelucutan atribut personil
Front Pembela Islam (FPI) yang datang ke Rembang pada Jum’at (9/6/2017),
pihak Kepolisian Resor Rembang pun harus membantah dengan keras. Bahwa
kabar yang tersebar melalui media sosial tersebut tidak benar. Demikian
dikabarkan suaraislam.co.
Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, mengungkapkan, justru pihak Polres
Rembang memfasilitasi para personil FPI dengan pakaian muslim baru.
Atribut yang dikenakan oleh para anggota
FPI yang datang ke Rembang kami minta untuk melepasnya, kemudian kami
ganti dengan baju koko baru. Itu bukan melucuti, tapi kami mengganti,
cara menyampaikannya juga dengan bahasa humanis ujarnya Jumat
(9/6/2017).

Komentar
Posting Komentar