Pak Haji Dihakimi massa, Ternyata Ini Sebabnya
Liputan Harian Berita - Pak Haji yang sudah tiga kali masuk penjara itu ditangkap usai diduga menyatroni rumah Kamaludin, warga Dusun Tengah, Desa Lapa Taman. H Umar Fadil akhirnya tewas akibat diamuk massa. Dia mengalami luka parah di kepala bagian belakang. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura, peristiwa maut di Desa Lapa Taman itu berawal saat H Umar Fadil diduga hendak mencuri di rumah Kamaludin. Sekitar pukul 00.00, dia memanfaatkan pintu rumah korban yang terbuka.
Dia masuk saat pemilik rumah berada di kamar mandi. Dari kamar
mandi, Kamaludin masuk kembali ke rumah untuk istirahat. Namun beberapa
saat kemudian, ada bunyi mencurigakan di salah satu kamar. Begitu di
kroscek, ternyata ada orang yang diduga maling kabur melalui pintu
depan. Kamaludin berteriak maling. Warga sekitar yang siaga setiap malam
pun langsung kalang kabut melakukan pengejaran.
Orang
yang diduga maling itu diketahui mengenakan cadar merah, sarung, dan
kaus. Dia kabur ke arah barat. Di sebuah pohon cemara, orang yang diduga
maling tersebut sempat menghilang. Warga semakin kompak mencari.
Tibatiba orang itu muncul dari tempat gelap di sekitar pohon cemara.
Warga berhasil menangkap ramai-ramai orang tersebut.
Diketahui, orang yang diduga maling adalah H Umar Fadil. Dia lantas diseret sekitar setengah kilometer ke arah barat rumah Kamaludin. Kedua tangannya diikat ke pohon mimba di selatan jalan raya Desa Lapa Taman. Sambil diikat, massa mulai memukuli di kepala dan sekujur tubuh Pak Haji berbadan kekar itu. ”Dia (H Umar Fadil, Red) sempat melawan menggunakan pisau. Tapi, berhasil digagalkan oleh warga. Pisaunya lepas dari tangan dia,” kata seorang warga berinisial MF. H Umar Fadil diketahui membawa sandal berbagai ukuran yang ditaruh di pinggangnya. Selain itu, dia membawa obeng dan tang.
Diketahui, orang yang diduga maling adalah H Umar Fadil. Dia lantas diseret sekitar setengah kilometer ke arah barat rumah Kamaludin. Kedua tangannya diikat ke pohon mimba di selatan jalan raya Desa Lapa Taman. Sambil diikat, massa mulai memukuli di kepala dan sekujur tubuh Pak Haji berbadan kekar itu. ”Dia (H Umar Fadil, Red) sempat melawan menggunakan pisau. Tapi, berhasil digagalkan oleh warga. Pisaunya lepas dari tangan dia,” kata seorang warga berinisial MF. H Umar Fadil diketahui membawa sandal berbagai ukuran yang ditaruh di pinggangnya. Selain itu, dia membawa obeng dan tang.
Saat diancam akan dibakar di tempat
yang diikat, dia mengaku bahwa aksinya masuk ke rumah Kamaludin disuruh
oleh PN (inisial), warga desa setempat. Mendengar pengakuan itu, massa
bergerak menuju rumah PN. Hanya, yang bersangkutan sudah tidak ada di
rumah karena lebih dulu kabur. Ribuan warga dari berbagai desa di
wilayah pantura Sumenep kemudian berdatangan. Mereka melihat dari dekat
Pak Haji yang tangannya diikat tali warna biru itu. Saat Jawa Pos Radar
Maura tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 04.00, tubuh H Umar Fadil
sudah tidak bergerak. Dia kemungkinan sudah tewas. ”Sejak sebelum bulan
puasa hingga sekarang, di desa kami banyak pencurian. Sapi dan emas yang
disasar. Mungkin dia pelakunya,” kata seorang warga sambil menunjuk
tubuh H Umar Fadil yang terus meneteskan darah dari kepala.
Polisi sebenarnya sudah datang ke tempat kejadian perkara (TKP). Namun aparat tak kuasa mengamankan Pak Haji yang diikat di pohon. Sebab waktu itu warga membeludak. Jika polisi mau mengamankan H Umar Fadil, harus ada perjanjian terlebih dahulu. Yakni, jangan ada maling lagi di Desa Lapa Taman. Jika ada pencurian lagi, polisi harus mengganti.
Dengan kondisi seperti itu, polisi hanya berada di sekitar lokasi. Baru pada pukul 04.40, setelah diduga kuat H Umar Fadil tak bernyawa, polisi bersama tim medis membawanya ke RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Sekitar pukul 09.00, jenazah dipulangkan ke rumah duka di Desa Tamansare. Kapolsek Dungkek AKP Jaiman mengatakan, malam itu pihaknya dibantu personel dari polres datang ke TKP. Tapi tidak bisa berbuat banyak karena ada ribuan warga. Hingga kemarin petang, polisi masih melakukan penyelidikan terkait aksi main hakim sendiri itu. ”Fokus olah TKP dulu,” katanya.
Di tempat berbeda di waktu yang hampir bersamaan, Wahyudi Andriyadi, 25, warga Desa Pakamban Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep, tewas di puskesmas setelah ditusuk dengan golok oleh As’ad Riyadi, 35. Pelaku penusukan diketahui merupakan tetangga korban. Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Suwardi mengatakan, malam itu pelaku menggelar ronda malam. Dia melihat gelagat mencurigakan di Jalan Raya Sumenep-Pamekasan. Pelaku mendekati dan ternyata bertemu dengan korban. ”Setelah cekcok, Wahyudi menghunuskan goloknya dan kena perut As’ad. Setelah menjalani perawatan di puskesmas, akhirnya As’ad tewas,” ujarnya. Pelaku kini ditahan di Polres Sumenep untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Polisi sebenarnya sudah datang ke tempat kejadian perkara (TKP). Namun aparat tak kuasa mengamankan Pak Haji yang diikat di pohon. Sebab waktu itu warga membeludak. Jika polisi mau mengamankan H Umar Fadil, harus ada perjanjian terlebih dahulu. Yakni, jangan ada maling lagi di Desa Lapa Taman. Jika ada pencurian lagi, polisi harus mengganti.
Dengan kondisi seperti itu, polisi hanya berada di sekitar lokasi. Baru pada pukul 04.40, setelah diduga kuat H Umar Fadil tak bernyawa, polisi bersama tim medis membawanya ke RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Sekitar pukul 09.00, jenazah dipulangkan ke rumah duka di Desa Tamansare. Kapolsek Dungkek AKP Jaiman mengatakan, malam itu pihaknya dibantu personel dari polres datang ke TKP. Tapi tidak bisa berbuat banyak karena ada ribuan warga. Hingga kemarin petang, polisi masih melakukan penyelidikan terkait aksi main hakim sendiri itu. ”Fokus olah TKP dulu,” katanya.
Di tempat berbeda di waktu yang hampir bersamaan, Wahyudi Andriyadi, 25, warga Desa Pakamban Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep, tewas di puskesmas setelah ditusuk dengan golok oleh As’ad Riyadi, 35. Pelaku penusukan diketahui merupakan tetangga korban. Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Suwardi mengatakan, malam itu pelaku menggelar ronda malam. Dia melihat gelagat mencurigakan di Jalan Raya Sumenep-Pamekasan. Pelaku mendekati dan ternyata bertemu dengan korban. ”Setelah cekcok, Wahyudi menghunuskan goloknya dan kena perut As’ad. Setelah menjalani perawatan di puskesmas, akhirnya As’ad tewas,” ujarnya. Pelaku kini ditahan di Polres Sumenep untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Komentar
Posting Komentar