Rasio Utang Pemerintahan Jokowi Jauh Lebih Kecil dari Pemerintahan Sebelumnya



Liputan Harian Berita - Belakangan pemerintahan Joko Widodo diserang oleh isu peningkatan jumlah utang negara yang meningkat. Berkali-kali Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan jika utang Indonesia masih tergolong cukup aman karena dikeluarkan untuk sektor produktif dan masih dalam angka rasio yang aman.
Akan tetapi isu tersebut terus berkembang di masyarakat sampai pertengahan Juli ini. Saat ini sendiri utang di era pemerintahan Joko Widodo mencapai Rp3.672,33 triliun terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) sejumlah Rp2.943,73 triliun (80,2 persen) dan pinjaman Rp728,60 triliun (19,8 persen).
Jika dilihat dari jumlah utang pemerintahan ke pemerintahan, utang di era Joko Widodo memang jumlahnya yang tertinggi. Akan tetapi hal ini tentu saja berbanding terbalik dengan rasio utang di era pemerintahan Joko Widodo.
Perlu diketahui rasio utang ialah alokasi dari pengeluaran yang kita gunakan untuk membayar pinjaman (pokok plus bunga) dibandingkan dengan jumlah seluruh pendapatan. Menurut undang-undang yang berlaku batas rasio utang Indonesia mencapai rasio 60 persen.
Pada kasus utang Indonesia saat ini sendiri, rasio utang Indonesia jelas jauh lebih kecil dari rasio utang yang sudah ditetapkan yakni hanya bekisar 27,9 persen. Pada grafis yang pernah dimuatLiputan6.com pada (17/2) tercatat ratio utang pemerintahan Jokowi-JK terbilang kecil dibandingkan rasio utang pemerintahan sebelumnya.
Setiap pergantian kepemimpinan jumlah utang Indonesia memang terus meningkat. Misalnya saja di akhir kepemimpinan Soeharto utang Indonesia mencapai Rp551,4 triliun dan sampai akhir era kepemimpinan SBY utang Indonesia mencapai Rp2.608 triliun.
Berbanding terbalik dengan utang yang terus meningkat, rasio utang di Indonesia sebaliknya. Pasca krisis moneter 1998 rasio utang Indonesia terus turun dari tahun ke tahun. Misalnya saat kepimpinan Habibie pasca krisis moneter rasio utang mencapai 85,4 triliun. Rasio utang masih meningkat ketika awal kepemimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mencapai 88,7 persen.
Akan tetapi pada 2001 di akhir kepemimpinan Gus Dur rasio utang ini terus turun menjadi 77,2 persen. Masuk era Megawati rasio utang Indonesia terus menurun sampai akhir kepimpinan Megawati, rasio utang Indonesia menjadi 54,5 persen pada tahun 2004. Masuk ke era SBY rasio utang pun terus turun mencapai 24,7 persen dengan total utang sekitar Rp 2.600 triliun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buruh Cap Anies Pembohong

Pabrik Rokok Di Probolinggo, 42 Karyawan Pabrik Positif COVID-19

Pembunuhan Satu Keluarga Di Sukoharjo